Makalah : Infaq dan dan Afdal

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

Islam telah menghimbau umatnya untuk saling saling menolong dalam hal-hal yang mendukung kebaikan dan ketakwaan. Dengan itu, jalinan antar komponen masyarakat Muslim akan semakin erat. Sebab si kaya akan memperhatikan kondisi sulit si miskin. Dan si miskin pun tidak perlu merendahkan diri dengan meminta-minta.
Secara khusus tentang sedekah, Allah azza wa jalla juga menghimbau perbuatan baik ini di banyak ayat. Ini menunjukkan manfaat besar sedekah bagi masyarakat umumnya. Banyak dalil, baik dalam al Qur’an maupun hadits-hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang mencatat keutamaan bersedekah. Di antaranya Allah azza wa jalla berfirman:
“Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” [QS.al Baqarah/2:280]
Allah azza wa jalla berfirman: “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya dijalan Allah), maka Allah akan memperlipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak.” [QS.al Baqarah/2:245].
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah menyampaikan bahwa bersedekah sama sekali tidak mengurangi harta yang dimiliki seseorang, beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah sedekah itu mengurangi kekayaan.” [HR.Muslim no.4689, at Tirmidzi no.1952 dan Ahmad no.6908]
Berdasarkan uraian diatas kami ingin mengangkat sebuah judul makalah yaitu Infak yang Paling Afdal.
B.     RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah kami uraikan sebelumnya, kami merumuskan masalah sebagai berikut :
1.      Apa yang dimakasud dengan infak yang afdal?

C.     TUJUAN PENULISAN
Berdasarkan rumusan masalah yang telah kami rumuskan maka adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :
1.      Untuk mengetahui tentang infak yang afdal








BAB II
PEMBAHASAN
A.    INFAK YANG AFDAL
Mengenai sedekah atau infak yang paling utama, selain kadar keikhlasan, ada beberapa hal yang membuat nilai sedekah semakin tinggi. Tentunya yang dimaksud adalah sedekah harta atau infaq tathawu’.

Artinya :
“Ismail bercerita kepada kami, ia berkata : Imam Malik bercerita kepadaku, dari Abu Zinad dari Al-a’raj dari Abu Hurairah r.a. sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda : Allah berfirman : wahai anak Adam belanjakanlah, maka aku akan memberi belanja kepadamu.”
Pertama dari segi orang yang memberi, khususnya mengenai kondisi dirinya pada saat bersedekah. Sedekah akan bernilai tinggi jika dilakukan ketika pemberi sedekah berada dalam kondisi sangat menginginkan harta dan takut jatuh miskin. Sebab dalam kondisi ini biasanya seseorang akan berat memberikan hartanya. Ia masih berangan akan menggunakan hartanya untuk ini dan itu. Sehingga sedekah dalam kondisi ini akan terasa lebih berat tapi semakin berat pula pahalanya.
Dalam sebuah hadits disebutkan dari Abu hurairah radiyallahu ‘anhu berkata,“Seseorang bertanya kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling afdhal?” Beliau menjawab: “Engkau bersedekah ketika masih dalam keadaan sehat lagi loba, sangat ingin menjadi kaya, dan khawatir miskin. Jangan kau tunda hingga ruh sudah sampai di kerongkongan, baru berpesan :”Untuk si fulan sekian dan untuk si fulan sekian.” Padahal harta itu sudah menjadi hak si fulan (ahli waris).” (HR Bukhari)
Ibnu Bathal menjelaskan, “Karena biasanya, rasa pelit itu muncul pada saat sehat, sehingga sedekah pada saat itu lebih jujur dan lebih besar pahalanya. Berbeda jika seseorang sudah putus asa dari kehidupan dan mulai dapat melihat bahwa hartanya sebentar lagi akan menjadi milik orang lain.” (Fathul Bariy V/13)
Kedua, dari segi kadar. Semakin banyak yang disedekahkan semakin baik. Hanya saja kadar banyak dan sedikitnya sedekah, ukurannya tidak melulu jumlah nominal tapi lebih pada kemampuan masing-masing. Sehingga yang paling utama adalah yang terbanyak dari prosentase kemampuan finansial setiap orang. Bagi orang kaya, sedekah seratus ribu barangkali tak lebih dari membuang receh. Tapi bagi yang miskin, boleh jadi jumlah itu adalah penghasilan selama seminggu bekerja.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sedekah- satu dirham bisa melampaui 100 ribu dirham.” Orang-orang bertanya, “Bagaimana bisa?” Rasulullah menjawab, “Seseorang hanya memiliki dua dirham lalu menyedekahkan satu dirham, sedang orang yang lain memiliki harta melimpah lalu mengambil sejumput hartanya senilai 100 ribu dirham, lalu ia bersedekah dengannya. “(HR. an Nasa’i).
Ketiga, dari segi si penerima sedekah. Sedekah paling utama diberikan kepada sanak kerabat dan saudara muslim yang dekat. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Sedekah kepada orang miskin itu nilainya satu sedekah, tapi sedekah kepada orang memiliki hubungan kerabat bernilai sedekah sekaligus silaturahim.” (HR. an Nasa’i, dinilai shahih oleh Imam al Albani).
Tentunya hal ini jika tingkat kebutuhannya sama. Adapun jika orang yang tidak memiliki hubungan kerabat jauh lebih membutuhkan, tentunya dialah yang lebih berhak terhadap sedekah tersebut.
Keempat dari segi bentuk. Sedekah terbaik adalah sesuatu yang paling sesuai dengan kebutuhan. Seperti kita tahu, sedekah mencakup makna yang luas. Memberi bantuan uang, merelakan hutang, tenaga, jasa, perbuatan baik seperti senyum dan sebagainya. Jika yang dibutuhkan adalah bantuan tenaga, kadangkala memberikan uang justru akan dianggap merendahkan atau paling tidak si penerima tidak berkenan. Ada kalanya juga, memberi pinjaman lebih baik dan lebih maslahat daripada memberi secara cuma-cuma. Karena bagi beberapa pemberian cuma-cuma akan menjadikannya berhutang budi hingga terasa berat. Pada intinya, hendaknya kita bisa menyesuaikan sedekah yang ingin kita berikan dengan apa yang dibutuhkan si penerima.

a.      Keutamaan Sedekah

1.      Sedekah dapat menghapus dosa.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
والصدقة تطفىء الخطيئة كما تطفىء الماء النار
“Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi, 614)
Diampuninya dosa dengan sebab sedekah di sini tentu saja harus disertai taubat atas dosa yang dilakukan. Tidak sebagaimana yang dilakukan sebagian orang yang sengaja bermaksiat, seperti korupsi, memakan riba, mencuri, berbuat curang, mengambil harta anak yatim, dan sebelum melakukan hal-hal ini ia sudah merencanakan untuk bersedekah setelahnya agar ‘impas’ tidak ada dosa. Yang demikian ini tidak dibenarkan karena termasuk dalam merasa aman dari maker Allah, yang merupakan dosa besar. Allah Ta’ala berfirman:

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah? Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’raf: 99)

2.       Orang yang bersedekah akan mendapatkan naungan di hari akhir.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang 7 jenis manusia yang mendapat naungan di suatu, hari yang ketika itu tidak ada naungan lain selain dari Allah, yaitu hari akhir. Salah satu jenis manusia yang mendapatkannya adalah:
رجل تصدق بصدقة فأخفاها، حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه

“Seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya, ia menyembunyikan amalnya itu sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari no. 1421)

3.      Sedekah memberi keberkahan pada harta.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ما نقصت صدقة من مال وما زاد الله عبدا بعفو إلا عزا
“Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah
tambahkan kewibawaan baginya.” (HR. Muslim, no. 2588)

Apa yang dimaksud hartanya tidak akan berkurang? Dalam Syarh Shahih Muslim, An Nawawi menjelaskan: “Para ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud disini mencakup 2 hal: Pertama, yaitu hartanya diberkahi dan dihindarkan dari bahaya. Maka pengurangan harta menjadi ‘impas’ tertutupi oleh berkah yang abstrak. Ini bisa dirasakan oleh indera dan kebiasaan. Kedua, jika secara dzatnya harta tersebut berkurang, maka pengurangan tersebut ‘impas’ tertutupi pahala yang didapat, dan pahala ini dilipatgandakan sampai berlipat-lipat banyaknya.”

4. Allah melipat gandakan pahala orang yang bersedekah.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18)

5.      Terdapat pintu surga yang hanya dapat dimasuki oleh orang yang bersedekah.
من أنفق زوجين في سبيل الله، نودي في الجنة يا عبد الله، هذا خير: فمن كان من أهل الصلاة دُعي من باب الصلاة، ومن كان من أهل الجهاد دُعي من باب الجهاد، ومن كان من أهل الصدقة دُعي من باب الصدقة

“Orang memberikan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: “Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.” (HR. Bukhari no.3666, Muslim no. 1027)

6.      Sedekah akan menjadi bukti keimanan seseorang.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
والصدقة برهان
“Sedekah adalah bukti.” (HR. Muslim no.223)
An Nawawi menjelaskan: “Yaitu bukti kebenaran imannya. Oleh karena itu shadaqah dinamakan demikian karena merupakan bukti dari Shidqu Imanihi (kebenaran imannya)”

7.      Sedekah dapat membebaskan dari siksa kubur.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إن الصدقة لتطفىء عن أهلها حر القبور
“Sedekah akan memadamkan api siksaan di dalam kubur.” (HR. Thabrani, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib, 873)

8.      Sedekah dapat mencegah pedagang melakukan maksiat dalam jual-beli
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يا معشر التجار ! إن الشيطان والإثم يحضران البيع . فشوبوا بيعكم بالصدقة

“Wahai para pedagang, sesungguhnya setan dan dosa keduanya hadir dalam jual-beli. Maka hiasilah jual-beli kalian dengan sedekah.” (HR. Tirmidzi no. 1208, ia berkata: “Hasan shahih”)

9.      Orang yang bersedekah merasakan dada yang lapang dan hati yang bahagia.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan permisalan yang bagus tentang orang yang dermawan dengan orang yang pelit:
مثل البخيل والمنفق ، كمثل رجلين ، عليهما جبتان من حديد ، من ثديهما إلى تراقيهما ، فأما المنفق : فلا ينفق إلا سبغت ، أو وفرت على جلده ، حتى تخفي بنانه ، وتعفو أثره . وأما البخيل : فلا يريد أن ينفق شيئا إلا لزقت كل حلقة مكانها ، فهو يوسعها ولا تتسع
“Perumpamaan orang yang pelit dengan orang yang bersedekah seperti dua orang yang memiliki baju besi, yang bila dipakai menutupi dada hingga selangkangannya. Orang yang bersedekah, dikarenakan sedekahnya ia merasa bajunya lapang dan longgar di kulitnya. Sampai-sampai ujung jarinya tidak terlihat dan baju besinya tidak meninggalkan bekas pada kulitnya. Sedangkan orang yang pelit, dikarenakan pelitnya ia merasakan setiap lingkar baju besinya merekat erat di kulitnya. Ia berusaha melonggarkannya namun tidak bisa.” (HR. Bukhari no. 1443)

b.      Sedekah Yang Paling Besar 
                                                              
Rasulullah dalam sebuah hadits menjelaskan prinsip dalam berinfaq yang paling afdhal, cara infak yang paling bagus yang paling besar pahalanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari shahabat Abu Hurairah Radhiallahu anhu: “Ada seorang laki laki mendatangi Rasulullah, kemudian laki – laki tadi bertanya:”
يا رسول الله أي الصدقة أعظم فقال أن تصدق وانت صحيح شحيح تخشى الفقر وتأمل الغنى ولا تمهل حتى اذا بلغت الحلقوم قلت لفلان كذا ولفلان كذا ألا وقد كان لفلان
Artinya:
Wahai Rasulullah, shadaqah seperti apa yang paling besar pahalanya? Maka Rasulullah menjawab. “ Shadaqah yang paling besar pahalanya itu adalah, saat engkau bershadaqah itu kamu masih sehat bugar, kamu masih dalam kondisi pelit saat itu – yakni berat sekali mengeluarkan uang – saat itu kamu takut miskin – yakni memang sayang dengan uangnya- dan kamu bercita – cita menjadi orang kaya saat itu serta kamu tidak menunda – nunda infaqmu sampai ketika ajal di kerongkongan baru kemudian kamu keluarkan, – kemudian kamu kumpulkan keluargamu – dan bilang : “Nak, sekian ini untuk si fulan, sekian ini untuk si fulan – infaq maksudnya – padahal saat dia telah meninggal dunia harta itu sudah beralih tangan menjadi hak ahli waris.” (Hadits Riwayat Muslim No. 1032)
Nilai shadaqah saat itu sangatlah rendah di sisi Allah. Dalam hadits ini ada prinsip yang harus kita pegang, yakni shadaqah yang paling besar pahalanya adalah ketika kita masih segar bugar, masih senang duit, masih bercita – cita jadi orang kaya, sehingga berat sekali mengeluarkan hartanya dan tidak ditunda – tunda sampai mau sekarat baru kemudian mau berinfaq.
c.       Sedekah-Sedekah Yang Paling Afdhal

1.       Shadaqatus sirr (Sedekah dengan sembunyi-sembunyi tanpa ada orang lain yang mengetahuinya)
Allah azza wa jalla berfirman yang artinya:
 “Jika kamu menampakkan sedekah(mu) maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu.” [QS.Al Baqarah/2:271]
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
“Dalam ayat ini terkandung pelajaran bahwa menyembunyikan sedekah itu lebih baik daripada menampakkannya. Sebab jauh dari riya’, kecuali bila pemberian sedekah secara terang-terangan mengandung kemashalatan yang jelas (misalnya mendorong orang lain untuk bersedekah pula, red).”
Selain itu, sedekah dengan cara ini ‘menyelamatkan’ muka dan kehormatan fakir miskin yang menerimanya. Ini merupakan tindakan baik yang dilakukan seorang dermawan kepada fakir miskin.
2.      Sedekah dengan ikhlas, tulus hati dan tidak mengungkit-ngungkitnya di hadapan si penerima
Allah azza wa jalla berfirman yang artinya :
“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima) [QS.Al Baqarah/2:264]
3.      Sedekah dalam kondisi sehat
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya: “Sedekah apakah yang paling besar ganjarannya? Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab:
“Engkau bersedekah dalam keadaan sehat lagi ingin menahan (kikir); mengkhawatirkan kemiskinan dan mengharap hidup berkecukupan. [Muttafaq ‘alaih]
4.      Bersedekah di tempat-tempat yang mulia seperti kota Mekkah dan Madinah
Karena selain tempatnya yang mulia (suci), Allah ta’ala memerintahkan bersedekah disana.
Allah azza wa jalla berfirman yang artinya:
“Maka makanlah sebagian darinya (daging kurban) dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang) yang sengsara lagi fakir [QS.Al-Hajj/22:28]
5.      Bersedekah di bulan suci Ramadhan
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok yang paling dermawan. Dan beliau menjadi lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat berjumpa Jibril. Beliau lebih mulia hati daripada angin yang bertiup [HR.Bukhari & Muslim]
Orang yang bersedekah di bulan Ramadhan akan dilipatgandakan pahalanya 10 sampai 700 kali lipat karena sedekah adalah amal kebaikan, kemudian berdasarkan Al A’raf ayat 16 khusus amalan sedekah dilipatkan-gandakan lagi sesuai kehendak Allah. Kemudian ditambah lagi mendapatkan berbagai keutamaan sedekah. Lalu jika ia mengiringi amalan sedekahnya dengan puasa dengan shalat malam, maka diberi baginya jaminan surga. Kemudian jika ia tidak terlupa untuk bersedekah memberi hidangan berbuka puasa bagi bagi orang yang berpuasa, maka pahala yang sudah dilipatgandakan tadi ditambah lagi dengan pahala orang yang diberi sedekah. Jika orang yang diberi hidangan berbuka puasa lebih dari satu maka pahala yang didapat lebih berlipat lagi.
6.      Bersedekah pada kondisi-kondisi yang mendesak (di daerah bencana atau kepada orang yang sangat membutuhkan)
Allah ta’ala berfirman:
“Atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir [QS.al Balad/90:14-16]
7.      Sedekah yang diberikan kepada kaum kerabat lebih utama daripada orang yang jauh (tanpa ada hubungan kekerabatan)
Allah azza wa jalla telah berwasiat agar kaum kerabat memperhatikan kerabat lainnya. Allah azza wa jalla menyebut hak mereka, seperti firman-Nya dalam banyak ayat, diantaranya:
“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya. [QS.al Isra’/17:26]





BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Beberapa keutamaan sedekah yaitu:
-           Sedekah dapat menghapus dosa;
-          Orang yang bersedekah akan mendapatkan naungan di hari akhir;
-          Sedekah memberi keberkahan pada harta;
-          Allah melipatgandakan pahala orang yang bersedekah;
-          Terdapat pintu surga yang hanya dapat dimasuki oleh orang yang bersedekah;
-          Sedekah akan menjadi bukti keimanan seseorang;
-          Sedekah dapat membebaskan dari siksa kubur;
-          Sedekah dapat mencegah pedagang melakukan maksiat dalam jual-beli;
-          Orang yang bersedekah merasakan dada yang lapang dan hati yang bahagia.
Infak yang afdal:
-          Shadaqatus sirr (Sedekah dengan sembunyi-sembunyi tanpa ada orang lain yang mengetahuinya);
-          Sedekah dengan ikhlas, tulus hati dan tidak mengungkit-ngungkitnya di hadapan si penerima;
-          Sedekah dalam kondisi sehat;
-          Bersedekah di tempat-tempat yang mulia seperti kota Mekkah dan Madinah;
-          Bersedekah di bulan suci Ramadhan;
-          Bersedekah pada kondisi-kondisi yang mendesak (di daerah bencana atau kepada orang yang sangat membutuhkan);

-          Sedekah yang diberikan kepada kaum kerabat lebih utama daripada orang yang jauh (tanpa ada hubungan kekerabatan).   

0 komentar: