BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Hakekat Belajar Matematika
Belajar adalah suatu aktivitas
mental/psikis yang berlangsung dalam interaktif dengan lingkungan, yang
menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan
nilai sikap.
Slameto
(1980: 2) mengemukakan bahwa secara psikologis belajar merupakan suatu
proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan
lingkungannya lebih jauh dikatakan bahwa perubahan tingkah laku dalam belajar
adalah:
1. Perubahan
ini terjadi secara sadar,
2. Perubahan
dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional,
3. Perubahan
dalam belajar bersifat/bernilai positif dan aktif
4. Perubahan
dalam belajar bukan bersifat sementara,
5. Perubahan
belajar bertujuan dan terarah.
Belajar adalah suatu proses perubahan
tingkah laku yang bersifat positif dalam diri seseorang. Perubahan tingkah laku
yang diakibatkan oleh belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk,
misalnya bertambahnya pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan perubahan sikap.
Salah satu contoh hasil dari usaha belajar Bilangan Pecahan adalah dari
belum memiliki pengetahuan tentang Bilangan Pecahan menjadi memiliki
pengetahuan tentang bilangan pecahan.
Belajar
Matematika
Soedjadi (2000: 1) mengemukakan
bahwa ada beberapa definisi atau pengertian matematika berdasarkan sudut
pandang pembuatnya, yaitu sebagai berikut:
·
Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan
eksak dan terorganisisir secara sistematik
·
Matematika adalah pengetahuan tentang bilangan
dan kalkulasi.
·
Matematika adalah pengetahuan tentang
penalaran logik dan berhubungan dengan bilangan.
·
Matematika adalah pengetahuan fakta-fakta
kuantitatif dan masalah tentang ruang dan bentuk.
Meskipun terdapat beraneka ragam
definisi matematika, namun jika diperhatikan secara seksama, dapat terlihat
adanya ciri-ciri khusus yang dapat merangkum pengertian matematika secara umum.
ciri-ciri khusus dari matematika adalah:
- Memiliki
objek kajian yang abstrak
- Bertumpu
pada kesepakatan
- Berpola
pikir deduktif,
- Memiliki
simbol yang kosong dari arti,
- Memperhatikan
semesta pembicaraan,
- Konsisten
dalam sistemnya.
Berdasarkan uraian yang telah
dikemukakan dapat dikatakan bahwa hakekat belajar matematika adalah kumpulan ide-ide yang
bersifat abstrak, terstruktur dan hubungannya diatur menurut aturan logis
berdasarkan pola pikir deduktif.
Belajar matematika tidak ada artinya
jika hanya dihafalkan saja. Dia baru mempunyai makna bila dimengerti. Orton
(1991: 154) mengemukakan bahwa hendaknya siswa tidak belajar matematika hanya
dengan menerima dan menghafalkan saja, tetapi harus belajar secara bermakna,
belajar bermakna merupakan suatu cara belajar dengan pengertian dari pada
hafalan. Untuk menguasai matematika diperlukan cara belajar yang berurutan,
setapak demi setapak dan bersinambungan, Lebih lanjut dikatakan bahwa proses
belajar matematika akan terjadi dengan lancar bila belajar itu dilakukan secara
kontinu.
Uraian di atas menunjukkan bahwa
belajar matematika memerlukan pengertian dan dalam mempelajari proses
pembelajarannya haruslah dilakukan secara bertahap, berurutan dan
berkesinambungan.
B.
Cooperatif Learning Dalam
Pembelajaran Matematika
Sekitar
tahun 1960-an, belajar kompetitif dan individualistik telah mendominasi
pendidikan di Amerika Serikat. Siswa biasanya datang ke sekolah dengan harapan
untuk berkompetisi dan tekanan dari orang tua untuk menjadi yang terbaik. Dalam
belajar kompetitif dan individualistik, guru menempatkan siswa terpisah dari
siswa yang lain. Kata-kata “dilarang mencontoh”, “geser tempat dudukmu”, “Saya
ingin agar kamu bekerja sendiri” dan “jangan perhatikan orang lain, perhatikan
dirimu sendiri” sering digunakan dalam belajar kompetitif dan individualistik
(Johnson & Johnson, 1994). Proses belajar seperti itu masih terjadi dalam
pendidikan di Indonesia sekarang ini.
Jika
disusun dengan baik, belajar kompetitif dan individualistik akan efektif dan
merupakan cara memotivasi siswa untuk melakukan yang terbaik. Meskipun demikian
terdapat beberapa kelemahan pada belajar kompetitif dan individualistik, yaitu
:
a.
kompetisi
siswa kadang tidak sehat, sebagai contoh jika seorang siswa menjawab pertanyaan
guru, siswa yang lain berharap agar jawaban yang diberikan salah,
b.
siswa
berkemampuan rendah akan kurang termotivasi,
c.
siswa
berkemampuan rendah akan sulit untuk sukses dan semakin tertinggal,
d.
dapat
membuat frustrasi siswa lainnya .
Untuk
menghindari hal-hal tersebut dan agar siswa dapat membantu siswa yang lain
untuk mencapai sukses, maka jalan keluarnya adalah dengan belajar kooperatif.
Belajar
kooperatif bukanlah sesuatu yang baru. Sebagai guru dan mungkin sebagai siswa
kita pernah menggunakannya atau mengalaminya, sebagai contoh saat bekerja dalam
laboratorium. Dalam belajar kooperatif, siswa dibentuk dalam kelompok-kelompok
yang terdiri dari 4 atau 5 orang untuk bekerja sama dalam menguasai materi yang
diberikan guru. Artzt & Newman (1990:448) menyatakan bahwa dalam belajar
kooperatif siswa belajar bersama sebagai suatu tim dalam menyelesaikan
tugas-tugas kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Jadi, setiap anggota
kelompok memiliki tanggung jawab yang sama untuk keberhasilan kelompoknya.
Kelompok
belajar kooperatif adalah kelompok yang dibentuk dengan tujuan untuk
memaksimalkan belajar antara siswa . Setiap anggota kelompok mempunyai tanggung
jawab terhadap, kontribusi mereka dalam usaha mencapai tujuan dan bantuan untuk
anggota yang membutuhkan . Belajar kooperatif mempunyai ide bahwa siswa bekerja
sama untuk belajar dan bertanggung jawab pada kemajuan belajar temannya.
Sebagai tambahan, belajar kooperatif menekankan pada tujuan dan kesuksesan
kelompok, yang hanya dapat dicapai jika semua anggota kelompok mempelajari
tujuan (penguasaan materi) yang akan dicapai (Slavin, 1995).
Tujuan
Cooperatif Learning adalah sebagai berikut :
1. Memaksimalkan belajar siswa untuk
peningkatan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu maupun secara
kelompok. Karena siswa bekerja dalam suatu tim, maka dengan sendirinya dapat
memperbaiki hubungan di antara para siswa dari berbagai latar belakang etnis
dan kemampuan, mengembangkan keterampilan-keterampilan proses kelompok dan
pemecahan masalah.
2. Dapat mengurangi kesenjangan pendidikan
khususnya dalam wujud input pada level individual.
3. Dengan belajar kooperatif, diharapkan
kelak akan muncul generasi baru yang memiliki prestasi akademik yang cemerlang
dan memiliki solidaritas sosial yang kuat.
Menurut
Johnson & Johnson (1994), terdapat lima unsur penting dalam belajar
kooperatif, yaitu seperti berikut :
1) Saling ketergantungan yang bersifat
positif antar siswa.
Dalam
belajar kooperatif siswa merasa bahwa mereka sedang bekerja sama untuk mencapai
satu tujuan dan terikat satu sama lain. Seorang siswa tidak akan sukses kecuali
semua anggota kelompoknya juga sukses. Siswa akan merasa bahwa dirinya
merupakan bagian dari kelompok yang juga mempunyai andil terhadap suksesnya
kelompok.
2) Interaksi antar siswa yang semakin
meningkat.
Belajar
kooperatif akan meningkatkan interaksi antar siswa. Hal ini, terjadi dalam hal
seorang siswa akan membantu siswa lain untuk sukses sebagai anggota kelompok.
Saling memberikan bantuan ini akan berlangsung secara alamiah karena kegagalan
seseorang dalam kelompok mempengaruhi suksesnya kelompok. Untuk mengatasi
masalah ini, siswa yang membutuhkan bantuan akan mendapatkan dari teman
sekelompoknya. Interaksi yang terjadi dalam belajar kooperatif adalah dalam hal
tukar menukar ide mengenai masalah yang sedang dipelajari bersama.
3) Tanggung
jawab individual.
Tanggung
jawab individual dalam belajar kelompok dapat berupa tanggung jawab siswa dalam
hal membantu siswa yang membutuhkan bantuan dan bahwa siswa tidak dapat hanya
sekedar “membonceng” pada hasil kerja teman sekelompoknya.
4) Keterampilan interpersonal dan kelompok
kecil.
Dalam
belajar kooperatif, selain dituntut untuk mempelajari materi yang diberikan
seorang siswa dituntut untuk belajar bagaimana berinteraksi dengan siswa lain
dalam kelompoknya. Bagaimana siswa bersikap sebagai anggota kelompok dan menyampaikan
ide dalam kelompok akan menuntut keterampilan khusus.
5) Proses kelompok.
kooperatif
tidak akan berlangsung tanpa proses kelompok. Proses kelompok terjadi jika
anggota kelompok mendiskusikan bagaimana mereka akan mencapai tujuan dengan
baik dan membuat hubungan kerja yang baik.
Konsep
utama dari belajar kooperatif,yaitu :
ü Penghargaan kelompok, yang akan
diberikan jika kelompok mencapai kriteria yang ditentukan.
ü Tanggung jawab individual, bermakna
bahwa suksesnya kelompok tergantung pada belajar individual semua anggota
kelompok. Tanggung jawab ini terfokus dalam usaha untuk membantu yang lain dan
memastikan setiap anggota kelompok telah siap menghadapi evaluasi tanpa bantuan
yang lain.
ü Kesempatan yang sama untuk sukses,
bermakna bahwa siswa telah membantu kelompok dengan cara meningkatkan belajar
mereka sendiri. Hal ini memastikan bahwa siswa berkemampuan tinggi,
sedang dan rendah sama-sama tertantang untuk melakukan yang terbaik dan bahwa
kontribusi semua anggota kelompok sangat bernilai.
C.
Keunggulan
Cooperative Learning
Belajar
kooperatif lebih unggul dalam meningkatkan hasil belajar daripada dengan
belajar kompetitif dan individualistik. Karena, belajar kooperatif dapat
mengembangkan tingkah laku kooperatif dan hubungan yang lebih baik antar siswa,
dan dapat mengembangkan kemampuan akademis siswa. Siswa belajar lebih banyak
dari teman mereka dalam belajar kooperatif daripada dari guru
belajar
kooperatif dapat digunakan dalam setiap jenjang pendidikan mulai taman
kanak-kanak sampai perguruan tinggi, dalam semua bidang materi dan dalam
sebarang tugas. . Selain itu, Slavin (1995) menyatakan bahwa belajar kooperatif
telah digunakan secara intensif pada setiap subjek pendidikan, dalam semua
jenjang pendidikan dan pada semua jenis persekolahan di berbagai belahan dunia.
Uraian di atas,
mendorong perlunya pelaksanaan belajar kooperatif dalam pembelajaran khususnya
pembelajaran matematika. Pelaksanaan belajar kooperatif sangat diperlukan
karena dengan belajar kooperatif dapat diperoleh bahwa, siswa dapat belajar
lebih banyak, siswa lebih menyukai lingkungan persekolahan, siswa lebih
menyukai satu sama lain, siswa mempunyai penghargaan yang lebih besar terhadap
diri sendiri, dan siswa belajar keterampilan sosial secara lebih efektif
(Johnson & Johnson, 1994).

0 komentar: